Dua Jam Bersama Letjen Purn Prabowo Subianto
Oleh: August Sasmitha
Satu pagi yang cerah, mengingat pagi itu saya akan menghadiri sebuah seminar motivasi nasioanl dari salah seorang calon pemimpin Indonesia masa depan, Letjen Purn Prabowo Subianto. Cukup berkesan bisa mendengar langsung pemaparan dari pemikiran-pemikiran cerdas beliau tentang bagaimana mengatur sebuah strategi agar Indonesia terbebas dari daya saing bebas di era globalisasi dengan tema seminar “Membangun Ekonomi Kerakyatan untuk Kemandirian dan Kedaulatan Pangan.” Setelah mengikuti beberapa acara pembuka, tepatnya pukul 11.25 Pak Prabowo muncul diiringi beberapa wartawan dan didampingi oleh Ketua ICMI Peduli Ibu Asma Ratu Ageng, karena memang pada hari itu diadakan pelantikan pengurus Masika ICMI Orda Malang dan pak Prabowo hadir sebagai Ketua Dewan Penasehat ICMI Peduli Nasional. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat membanggakan, karena beliaupun menyumbang dana bantuan sebesar 1 Milyar untuk ICMI.
Dengan suara yang lantang dan gaya bicara yang cukup santai, siang itu pak Prabowo menyampaikan gagasan-gagasan beliau bagaimana agar Indonesia kedepannya tidak lagi bergantung kepada negara-negara barat dan kesejahteraan masyarakat merata. Beliau mengatakan bahwa system demokrasi yang telah disepakati 15 tahun lalu sebagai system yang paling baik untuk Indonesia ternyata tidak membuahkan hasil yang baik bagi negeri ini, kesenjangan sosial menajam, masyarakat frustasi dengan ekonomi yang semakin tidak terjangkau, populasi masyarakat Indonesia meningkat, system pemerintahan yang korup, dan persediaan sumber daya energi yang tidak mencukupi untuk beberapa tahun kedepan. Tentunya semua permasalahan-permasalahan tersebut membutuhkan solusi yang konkrit agar Indonesia tidak lagi berlama-lama terpuruk dalam ketertindasan ekonomi, dengan itu beliau memberikan penawaran dengan mengusung Ekonomi Kerakyatan sebagai solusi yang tepat agar Indonesia bangkit menjadi negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih dan tentunya bisa lebih baik bersaing di dunia internasional. Beliau menjelaskan bahwasannya Ekonomi Kerakyatan meruapakan sebuah system ekonomi yang lebih memfokuskan pendekatan kepada ekonomi mikro dan memanfaatkan kekayaan alam untuk menstabilkan perekonomian Indonesia untuk seluruh lapisan masyarakat. Sistem ini tidak begitu serta merta beliau ajukan, namun hal itu berdasarkan amanah founding father kita 67 tahun silam yang telah tertuang dalam UUD’45 Ayat 33 Pasal 2 dan 3. Dan itu menjadi alasan yang sangat kuat bagi beliau untuk memastikan bahwa ekonomi kerakyatan adalah solusi yang tepat bagi bangsa Indonesia saat ini.
Saat ini Indonesia adalah negara dengan ekonomi terbesar ke-16 di dunia, dan diramalkan pada tahun 2030 Indonesia akan menempati posisi terbesar ke-7 di dunia. Sebuah peringkat yang sangat membanggakan, namun semua itu nyatanya tidak seindah yang kita pandang. Karena peningkatan ekonomi hanya berkutat pada ekonomi makro tidak pada ekonomi mikro, perkembangan pada wilayah makro sangat cepat namun pada wilayah sangat lambat sehingga yang terjadi adalah kesengjangan yang sangat besar. Hal inipun dikarenakan dengan peredaran uang yang tidak merata di masyarakat, dari hasil survey yang dilakukab 60% uang beredar di Ibukota Jakarta, 30% di kota-kota besar lainnya, dan 10% di desa, padahal 60% penduduk Indonesia hidup di pedesaan. Begitupun dengan populasi penduduk yang semakin meningkat tajam dengan rasio 1.6 %, bayangkan saja dengan jumlah penduduk 241 juta berarti setiap tahunnya Indonesia memiliki 3.8 juta penduduk baru dan tentunya semua itu akan membutuhkan biaya hidup yang semakin meningkat. Juga dengan ketersediaan Sumber Daya Energi yang semakin menipis, seperti minyak, gas, dan batu bara. Indonesia membutuhkan inovasi dan penemuan baru untuk peningkatan bekal SDE dimasa yang akan datang, dan semua itu akan terwujud jika Indonesia menggunakan system Ekonomi Kerakyatan. Dan permasalahan yang paling urgent adalah system pemerintahan yang tidak efisien dan korup. Korupsi di Indonesia sudah menyebar merata dikalangan pejabat, juga ketidakseimbangan antara jumlah daerah otonom dan populasi masyarakat Indonesia. Puluhan bahkan ratusan pejabat di Indonesia, baik pejabat daerah hingga pusat adalah bekas narapidana yang sersandung kasus korupsi, dan puluhan lainnya sedang dalam proses penyelidikan. Itu semua merupakan tantangan generasi kedepan untuk lebih mensinergiskan antara nasionalisme terhadap negara dan system perekonomian yang mengedepankan wilayah mikro.
Dari semua yang telah beliau paparkan akhirnya saya dapat menyimpulkan bahwasannya Indonesia saat ini sedang dalam masa-masa pubertas menuju kedewasan dalam bernegara dan mewujudkan negara yang merdeka dari segala belenggu system negara-negara barat. Semua system yang sudah diterapkan di Indonesia memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing, tapi satu yang paling penting adalah bagaimana agar rasa nasionalisme khususnya untuk kaum muda lebih besar untuk mengakui ke-Indonesia-annya bukan malahan mengakui negara lain disbanding negaranya sendiri. Dimanapun kita belajar tetap kita harus mengingat dari masa kita berasal dan siapa nenek moyang kita agar kita tidak keblinger dengan kemegahan negara lain. Salam satu jiwa kepedulian umat! Merdeka!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar