SUMPAH SAMPAH PEMUDA
Oleh: August Sasmitha
Sebelumnya, ingin kupersembahkan satu sajak manis tentang bobroknya kita, pemuda.
Sajak sampah yang tak sempat terpungut pemulung…
Kau bilang merdeka, sementara kau terpenjara kebodohan
Apa yang bisa kau banggakan dengan sedikit kemampuan dan kemahiran kecengan
Tak mungkin kau mampu merubah, sedikit dihasut saja kau sudah murka
Pahamkah kau akan sejarah ketika berteriak betapa bobrok manusia sekarang
Asik berfilsafat hingga lupa untuk berkreatifitas
Bilang rindu pada keadilan, namun sikapmu tak adil pada akal dan hati
Terlena dengan cerita leluhur, betapa indahnya membunuh dan mencabik tubuh penjajah
Menikmati cerita perjuangan hingga tak sadar dimana kau hidup sekarang
Kita harus berjuang, tapi bukan dengan cara yang sama
Kita tak lagi harus cerdik bergelirya, tapi cerdas bertahan dari paradigma kebaratan
Tak usah lagi bersusah payah mengrim surat kaleng, terbuka saja pada dunia
Jangan jadikan dirimu sirkus asing, berdendang menyanyikan musik kebiadaban
Teriakan MERDEKA!!!
Kita merdeka dari akal yang bodoh dan pribadi yang picik
Kita merdeka dari penjajahan system yang semakin menjerumuskan
Pemuda jangan hanya berSUMPAH agar tak menjadi SAMPAH
Malang, 1 November 2012
84 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 27 Oktober 1928 di gedung Katoelieke Jongenlingen Bonet (KJB), satu hari sebelum sumpah pemuda dideklarasikan, dengan penuh semangat membara Mochammad Jamin berpidato tentang cita-cita dan harapan pemuda untuk negeri yang lebih baik. Beliau mengatakan ada lima factor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu: sejarah, hukum, adat, pendidikan, dan kemauan. Namun apa yang terjadi sekarang, cita-cita itu mulai padam. Pemuda takut melawan, dan lebih patuh pada hasrat keduniawian. Sibuk mengejar target hidup, bersendau gurau tentang sesuatu yang memang lucu padahal perlahan akan memperbudaknya.
Mari mencoba kita pahami lima faktor pemersatu pemuda yang dimaksud dari pidato yang disampaikan oleh Moch. Yamin, agar kita tak sekedar berkoar-koar namun kita memang benar-benar paham apa yang dicita-citakan pendahulu kita.
1.Sejarah
Sebagai generasi penerus tentunya kita harus paham sejarah. Ingat apa yang dikatakan sang proklamator Soekarno bahwasanya bangsa yang besar adalah bangsa yang tak melupakan sejarah bangsanya. Kita ada karena sejarah. Kita bisa belajar dan berpendapat dengan bebas karena sejarah. Catatan hitam dan putih para pelaku sejarah hanyalah proses yang tak terlepas dari kedhoifannya sebagai manusia. Jangan terus terlena dengan hasutan lembaran kertas sejarah, padahal kita benar-benar menikmati hidup karena sejarah. Untuk apa kita berdialektika, kalaupun kita terus berburuk sangka pada sejarah kemerdakaan bangsa. Tak ada yang sempurna dalam proses hidup hingga kematian, yang ada hanyalah bagaimana kita mampu memahami mengapa kita harus hidup dan berjuang atas nama kemanusiaan.
2.Hukum
Agar sebuah wilayah atau Negara menjadi kuat dan tersistem dengan baik, maka dia harus memiliki hukum sendiri. Memiliki aturan yang mampu mempertahankan kedaulatan kemerdakaan. Para pemuda harus diikat dalam satu pemahaman hukum yang kemudian harus dijaga dan dipertahankan bersama, hukum yang paten tentang sebuah persatuan mempertahan kemerdakaan bangsa Indonesia. Indonesia tidak boleh takut, Indonesia harus berani karena adanya hukum yang mendasari.
3.Adat
Sumpah pemuda dideklarasikan atas inisiatif Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI). Perwakilan seluruh pemuda dari bernagai etnis dan suku di Indonesia ikut dalam kongres Pemuda ke II tersebut. Tak dipungkiri lagi, Indonesia memiliki ribuan suku dan hukum adat yang bereda-beda, yang kemudian menjadi tantangan tersendiri bagaimana kemudian pemuda mampu melepaskan ego etnis dan bersatu dalam satu tujuan, yakni kemerdakaan. Dan itu seharusnya direfleksikan oleh pemuda zaman sekarang, agar kita harus terus mempertahankan nilai-nilai budaya Indonesia namun tetap bersatu dengan berbangsa satu, bertanah air satu, dan berbahasa satu, yakni Indonesia.
4.Pendidikan
Menjadi pemuda yang ingin memperjuang dan menjungjung tinggi kebangsaannya, maka tentunya dia harus memiliki pengetahuan yang luas, dan semua itu bisa didapatkan melalu pendidikan. Mendapatkan pendidikan yang layak, adalah sebuah keharusan jika pemuda ingin tampil kedepan meneriakan Indonesia adalah Negara berbudaya dan bermartabat. Apa jadinya jika kita bodoh, berteriak tanpa arah dan hanya ditertawakan oleh zaman yang semakin berkembang pesat.
5.Kemauan
Kemauan dan niat yang kuat adalah modal utama untuk terus berjuang. Jika tak ada kemauan maka semua adalah kehampaan. Menjadi pemuda tak usah munafik dengan mengatakan ingin berjuang namun terus bermalas-malasan dengan lembaran-lembaran kertas yang tak kunjung juga memberikan petunjuk. Kuatkanlah mental, sebab tidak asuransi yang membebaskanmu dari sebuah persaingan. Cerdaskanlah akal, sebab zaman akan menjadikan manusia semakin pandai berdiplomasi.
Semoga semua ini menjadi renungan kita bersama, bahwa era globalisasi memberikan kita multi tantangan untuk diatasi. Kita tak harus membawa senjata untuk berperang, tapi kita harus memiliki ilmu untuk bertarung secara intelektual. Kita harus memiliki daya kreatifitas agar tidak tertinggal dibelakang punggung keadidayaan asing. Terus semangat, jangan ragu untuk melangkah. Sekali mengatakan merdeka, maka harus terus merdeka.
Bahagialah HMI, jayalah KOHATI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar