Senin, 18 Maret 2013

Diskusi antara Rasional dan Konservatif


Diskusi antara Rasional dan Konservatif 
Bagi kaum muda yang menyandang status mahasiswa, diskusi merupakan hal yang sudah biasa dilakukan atau dengan kata lain diskusi adalah kegiatan rutin yang sudah terjadwal. Kurang syah rasanya bagi penyandang mahasiswa tanpa melakukan diskusi, layaknya “gelas setengah berisi” atau “gelas setengah kosong”  karena membaca buku saja tidak cukup. Kebenaran isi buku yang dibaca belum sepenuhnya benar. Oleh karena itu, dengan bertukar pikiran kita akan memperoleh kebenaran yang objektif. Sebagaimana menurut Ibnu Muflin Al- makdisi “cara terbaik dalam mencari kebenaran adalah dikusi”.
Diskusi merupakan kegiatan bagi mereka yang memiliki sikap skeptis terhadap informasi-informasi yang mereka dapat dari buku maupun fenomena yang terjadi disekitar mereka. Karena keragu-raguan yang mereka miliki melahirkan kegelisahan yang perlu dihilangkan. Sehingga sebagai langkah mereka adalah mengadakan diskusi. Walaupun terkadang hasil yang mereka peroleh dari diskusi tidak menemukan ujung. Ini disebabkan sikap konservativ dari sebagian peserta diskusi mungkin karena malu atas sangahan-sanggahan atau kritikan- kritikan yang dilontarkan oleh beberapa peserta diskusi yang kemudian akan melahirkan selalu mempertahankan pendapat diri sendiri ketimbang pendapat- pendapat yang lebih rasional. Oleh karena itu, saya sangat setuju dengan pernyataan bahwa “mengkritik lebih mudah dan menerima kritikan adalah lebih sulit”
Sikap tak mau kalah dalam forum diskusi memang wajar bagi kaum intelektual muda, karena mereka masih dalam proses pencarian jati diri. Namun, sikap seperti ini harus segera dihilangkan demi terwujudnya diskusi dalam artian mencari kebenaran. Apabila kita mengedepankan ego maka diskusi tak akan pernah menemukan titik terang dan terbentuklah diantara mereka berkubu-kubu. Tentunya persoalan-persoalan tak akan pernah terselesaikan, Bahkan akan memperpanjang persoalan-persoalan yang sudah ada atau ia akan menjadi masalah baru yang akan mengaburkan persatuan dan kesatuan antar mahasiswa.
Memang perbedaan pendapat dalam forum diskusi sangat perlu demi terhindarnya diskusi yang monoton dan yang kurang bergairah. Sehingga dengan adanya perbedaan pendapat bisa melahirkan dialektika satu sama lain dalam forum diskusi tersebut. Namun, setidaknya kita memiliki sikap rasional dalam menyikapi setiap pendapat. Tak ada keberpihakan dalam berwacana dan harus benar-benar memperhitungkan segenap hal yang relevan sebelum menetapkan suatu keyakinan. Apabila kita memang benar- benar orang yang rasional, maka tidak akan pernah mengatakan “pendapat kalian salah” dan lebih suka mengatakan “ menurut kaca mata saya pendapat kalian kurang benar”. Jika kepastian tak mungkin dicapai, seorang yang rasional akan memilih pendapat yang mendekati kebenaran, sambil tidak membuang pendapat- pendapat lainnya yang juga berkemungkinan untuk benar sebagai hipotesis yang siapa tahu belakangan bisa didukung oleh bukti- bukti yang ril.
 Jadi seorang yang rasional tidak mengedepankan ego atau berpendapat secara konservative dalam berdiskusi, akan tetapi mengedapankan rasio, dimana pendapatnya bisa diterima secara objektiv dan tidak mengabaikan pendapat-pendapat orang lain.

1 komentar: