Jumat, 24 Mei 2013

BUDAK


BUDAK


Sudah Berapa Lama Aku Terkungkung Dalam Gerak Jiwa Yang Terikat
Jiwa Yang Tak Bisa Lepas Dri Tali Kemusrikan Yang Mengekang
Memang Serasa Tak Teraba Oleh Akal Yang Sudah Menemukan Tempat Penguburannya
Padahal Keterkekangan Yang Aku Rasakan Sudah Jelas Menjadi Tebing Penghalang Bagiku
Akan Tetapi Aku Seolah Tak Punya Daya Untuk Menghancur Leburkannya
Entahlah Berapa Buku Yang Harus Aku Baca Untuk Menemukan Solusi Pembebasan Jiwa Yang Sdah Diperbudak Oleh Hal2 Yang Seharusnya Aku Kendalikan Bukan Dikendalikan
Sedangkan Nasehat Demi Nasehat Yang Aku Temukan Dari Berbagai Buku Atau Dari Berbagai Mulut Mnusia Msih Belum Menemukan Ruangan Khusus Dalam Jiwaku
Seandainya Smua Ini Selalu Berjalan Berulang Diatas Lantasan Yang Sama,
Bagaimana Mungkin Coretan Waktu Yang Ingin Aku Ukir Ditengah-Tengah Kehidupan Manusia Bisa Terwujud Sedangkan Kedua Tanganku Tak Mampu Merangkul Permasalahan Batinku Sendiri Yang Menjelma Sebagai Tuhan-Tuhan Kecil Yang Selalu Aku “Sembah” Setiap Saat,
Jika Tidak, Aku Akan Menjadi Manusia Yang Memiliki Garis Keturunan Iblis Yang Selalu Mengajak Pada Jalur Kesesatan,


ANTARA HUKUMAN DAN PENGHARGAAN


                 ANTARA HUKUMAN DAN PENGHARGAAN
                                                                Oleh : Fahrul Imran
Perjalanan sejarah telah membuktikan bahwa kaum kapitalis semakin merajalela diberbagai negara-negara maju maupun negara berkembang. Mengatasi implikatif berbagai macam aliran modal ( Inflow) yang berkembang tidak dapat dipungkiri. Kehadiran penguat negara membentuk kesejahteraan individualisme diberbagai macam aspek produksi. Berbicara kesejahteraan ataupun keadilan tentu berbicara transformasi masyarakat. Harapan masyarakat mayoritas tentu ingin keadilan yang setara, sekalipun itu keadilan yang berbau komunis.
Masyarakat  sipil (civil society) adalah masyarakat mayoritas ingin merdeka, mereka tidak ingin hak-haknya dirampas oleh kaum penghukum negara. Kecenderungan kaum produksi lebih insentif berkontribusi (dorongan penyaluran) dengan adanya kekurangan pada produk lain. Kepandaian mereka lebih kepada penghukuman dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Tindakan-tindakan ini lebih progresif dibandingkan kelas borjuis atas, Satu kesempatan yang dilewati  maka taktik-taktik lebih cepat diatur kearah strategis. Tentu peluang kemenangan bagi kaum marhaen( kelas rendah) tidak dapat menikmati secara bertahap.
Kemungkinan yang muncul, hanya bervarian ditengah konseptual yang ada. Keresahan akan membungkuk ketika demokrasi-komunis berjuang dengan adanya penggabungan ideologi yang sama. Kesulitan negara Indonesia pada titik tekan demokrasi yang damai dan bebas, lantas tidak ada penjaminan sebuah negara akan makmur ketika demokrasi berkiprah diantara dua keterselubungan tersebut. Spekulatif (dugaan) boleh saja menganalisa antara dua jalan ini, karena penumpang gelap lebih cerdik dan licik. Tidak perlu harus melihat tontonan mereka, berlaku sebagai produsen cukup buas dalam menaklukan dunia maju (kontemporer). Tentu sebagai konsumtif akan jatuh dalam kebiasaan adat hingga mencapai sebuah target penggunaan yang lebih tinggi memaksa mereka untuk terkuras (out flow).
Ada problematika yang tidak bisa dijangkau, Seperti apa yang dikatakan oleh Karl Marx; “Bahwa hampir pada semua masyarakat negara, yang memang belum sepenuhnya menjelma sebagai entitas kapitalis murninya, tapi pada satu titik tertentu pasti akan bersifat kapitalis murni bila kemajuan-kemajuan ekonomi tetap menjadi prioritas utama Negara dan tetap dipertahankan”.
Mengutip halaman tersebut, bahwa akan ada musuh yang lebih besar secara internal yang kemudian akan membantai dan melekat menjadi sporadis (jamuran) negara. Kadang hal itu yang menjadi kebanggaan negara berkembang.
Mampukah Indonesia bertahan diantara problematika tersebut. Hampir semua produk berkualitas kaum penghukum menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia. Kehilangan jati diri bangsa Indonesia memang sudah kodrat yang harus diterima, mau berbuat apalagi ketika sudah dikungkung oleh modernitas-modernitas yang tidak mengenal kolektif. Indikasi yang muncul lebih pada individualisme, sehingga tertanam pada diri masyarakat bahwa apa yang mereka sumbang telah menjadi kebanggaan tersendiri. Kemerosotan kekuatan-kekuatan super power (kuat) telah membuat iklim badai yang spontan merubah keadaan budaya di Indonesia.
Tentu hal-hal tersebut yang menjadi masalah berat bagi bangsa, semua dibutakan dalam bentuk materil. Lantas apa yang harus dikembangkan ketika semua sektor sudah diekploitasi? Indonesia bagaikan budak negara lain yang harus menjadi umpan serigala bertaring seribu. Jika direalistiskan maka banyak terjadi kontras yang tidak seimbang, permainan yang dilakukan oleh kaum penghukum tidak menoleh kekanan dan kekiri sedikitpun. Negara ini bagaikan tempat terjadinya metabolisme suatu negara lain,  tidak berdasarkan pada mutualisme interaksi sosial. Pemerintah begitu santun dengan keadaan yang menyelimuti bangsa sendiri, sikap dan kebijakan hanya dengan mengukur dari barometer pemujaan. Memang bangsa ini harus maju, akan tetapi kemajuan tidak harus diukur dengan pemikiran dangkal. Cukup dengan membuat tesis-tesis pemikiran untuk dianalisa dan dibulatkan dalam bentuk strategis kedepan. Jangkauan pemerintah sebenarnya harus memahami psikologis bangsa seperti; Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI.
Ruang gerak bagi bangsa Indonesia sangat memadai apabila Sumber Daya Manusia(SDM) mampu memegang Sumber Daya Alam (SDA)nya. Kekalahan bukan di negara ini, melainkan negara asing yang akan menyembah-nyembah. Memang yang dibutuhkan adalah konsistensi atas harapan demokrasi walaupun masa transisi belum berakhir. Jalan demokrasi sudah memberikan lajur kiri untuk berjalan lurus, tinggal diimplementasikan, dan jika sewaktu-waktu terjadi tabrakan maka bukan suatu sistem yang salah tetapi ada kesalahan teknis yang berlawanan ingin menyebrang tanpa aturan. Inilah yang disebut kaum penghukum. Tanda-tanda semacam itu yang lebih praktis, karena bisa saja kaum tersebut menyodor upah kepada pengatur lalu lintas. Dari pemaparan diatas bentuk analogi sederhana dari penulis, kemungkinan saja bisa terjadi seperti itu. Oleh karena itu, wanti-wanti terhadap peran kaum penguasa. Konspirasi boleh saja terjadi dengan waktu amat singkat. Kelas penghukum akan membuat calon baru diseluruh penjuru Indonesia dan kalau sudah seperti itu tinggal menunggu keruntuhan melalui pengahargaan-penghargaan. [Fahrul Imran/ Faperta; agroteknologi, HMI unisma].

Minggu, 05 Mei 2013

Dosa Setengah Tiang

Dosa  Setengah  Tiang
Akulah  pandawa  lintasan  dunia…
Terbentang  roh  jasad  terbuang  murka…
Bercerita  dongeng  ditimur  tengah…
Lelapan  hari  semakin  menzona…
Tiupan  angin  hembuskan  debu  kematian…
Suara  gagak  menghampiri  ujung  badan…
Janji  malaka  hanya  berupa  urat  setan…
Ketaklukan  terhindar  dari  ikatan  amalan…
Seruan  surat  sudah  terbaca  oleh  samudra…
Tangisan  pribumi  hadir  diselat  sunda…
Lompatan  akal  terbawa  aliran  dosa…
Lensa  takabur  hilang  diterpa  bencana…
Kerasan  batu  sukar  dipecah  air…
Sebagian  sudah  dimakan  sang  petir…
Semoga  kerap  berlalu  dengan  sihir…
Ujar  memandang,  bala  akan  tersingkir…
          
Karya: ‘Si  Rumput  Emas’  ( Kampoeng Rusa—SUMBAWA  BESAR ).

Dua Jam Bersama Letjen Purn Prabowo Subianto

Dua Jam Bersama Letjen Purn Prabowo Subianto
Oleh: August Sasmitha

Satu pagi yang cerah, mengingat pagi itu saya akan menghadiri sebuah seminar motivasi nasioanl dari salah seorang calon pemimpin Indonesia masa depan, Letjen Purn Prabowo Subianto. Cukup berkesan bisa mendengar langsung pemaparan dari pemikiran-pemikiran cerdas beliau tentang bagaimana mengatur sebuah strategi agar Indonesia terbebas dari daya saing bebas di era globalisasi dengan tema seminar “Membangun Ekonomi Kerakyatan untuk Kemandirian dan Kedaulatan Pangan.” Setelah mengikuti beberapa acara pembuka, tepatnya pukul 11.25 Pak Prabowo muncul diiringi beberapa wartawan dan didampingi oleh Ketua ICMI Peduli Ibu Asma Ratu Ageng, karena memang pada hari itu diadakan pelantikan pengurus Masika ICMI Orda Malang dan pak Prabowo hadir sebagai Ketua Dewan Penasehat ICMI Peduli Nasional. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat membanggakan, karena beliaupun menyumbang dana bantuan sebesar 1 Milyar untuk ICMI.
Dengan suara yang lantang dan gaya bicara yang cukup santai, siang itu pak Prabowo menyampaikan gagasan-gagasan beliau bagaimana agar Indonesia kedepannya tidak lagi bergantung kepada negara-negara barat dan kesejahteraan masyarakat merata. Beliau mengatakan bahwa system demokrasi yang telah disepakati 15 tahun lalu sebagai system yang paling baik untuk Indonesia ternyata tidak membuahkan hasil yang baik bagi negeri ini, kesenjangan sosial menajam, masyarakat frustasi dengan ekonomi yang semakin tidak terjangkau, populasi masyarakat Indonesia meningkat, system pemerintahan yang korup, dan persediaan sumber daya energi yang tidak mencukupi untuk beberapa tahun kedepan. Tentunya semua permasalahan-permasalahan tersebut membutuhkan solusi yang konkrit agar Indonesia tidak lagi berlama-lama terpuruk dalam ketertindasan ekonomi, dengan itu beliau memberikan penawaran dengan mengusung Ekonomi Kerakyatan sebagai solusi yang tepat agar Indonesia bangkit menjadi negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih dan tentunya bisa lebih baik bersaing di dunia internasional. Beliau menjelaskan bahwasannya Ekonomi Kerakyatan meruapakan sebuah system ekonomi yang lebih memfokuskan pendekatan kepada ekonomi mikro dan memanfaatkan kekayaan alam untuk menstabilkan perekonomian Indonesia untuk seluruh lapisan masyarakat. Sistem ini tidak begitu serta merta beliau ajukan, namun hal itu berdasarkan amanah founding father kita 67 tahun silam yang telah tertuang dalam UUD’45 Ayat 33 Pasal 2 dan 3. Dan itu menjadi alasan yang sangat kuat bagi beliau untuk memastikan bahwa ekonomi kerakyatan adalah solusi yang tepat bagi bangsa Indonesia saat ini.
Saat ini Indonesia adalah negara dengan ekonomi terbesar ke-16 di dunia, dan diramalkan pada tahun 2030 Indonesia akan menempati posisi terbesar ke-7 di dunia. Sebuah peringkat yang sangat membanggakan, namun semua itu nyatanya tidak seindah yang kita pandang. Karena peningkatan ekonomi hanya berkutat pada ekonomi makro tidak pada ekonomi mikro, perkembangan pada wilayah makro sangat cepat namun pada wilayah sangat lambat sehingga yang terjadi adalah kesengjangan yang sangat besar. Hal inipun dikarenakan dengan peredaran uang yang tidak merata di masyarakat, dari hasil survey yang dilakukab 60% uang beredar di Ibukota Jakarta, 30% di kota-kota besar lainnya, dan 10% di desa, padahal 60% penduduk Indonesia hidup di pedesaan. Begitupun dengan populasi penduduk yang semakin meningkat tajam dengan rasio 1.6 %, bayangkan saja dengan jumlah penduduk 241 juta berarti setiap tahunnya Indonesia memiliki 3.8 juta penduduk baru dan tentunya semua itu akan membutuhkan biaya hidup yang semakin meningkat. Juga dengan ketersediaan Sumber Daya Energi yang semakin menipis, seperti minyak, gas, dan batu bara. Indonesia membutuhkan inovasi dan penemuan baru untuk peningkatan bekal SDE dimasa yang akan datang, dan semua itu akan terwujud jika Indonesia menggunakan system Ekonomi Kerakyatan. Dan permasalahan yang paling urgent adalah system pemerintahan yang tidak efisien dan korup. Korupsi di Indonesia sudah menyebar merata dikalangan pejabat, juga ketidakseimbangan antara jumlah daerah otonom dan populasi masyarakat Indonesia. Puluhan bahkan ratusan pejabat di Indonesia, baik pejabat daerah hingga pusat adalah bekas narapidana yang sersandung kasus korupsi, dan puluhan lainnya sedang dalam proses penyelidikan. Itu semua merupakan tantangan generasi kedepan untuk lebih mensinergiskan antara nasionalisme terhadap negara dan system perekonomian yang mengedepankan wilayah mikro.
Dari semua yang telah beliau paparkan akhirnya saya dapat menyimpulkan bahwasannya Indonesia saat ini sedang dalam masa-masa pubertas menuju kedewasan dalam bernegara dan mewujudkan negara yang merdeka dari segala belenggu system negara-negara barat. Semua system yang sudah diterapkan di Indonesia memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing, tapi satu yang paling penting adalah bagaimana agar rasa nasionalisme khususnya untuk kaum muda lebih besar untuk mengakui ke-Indonesia-annya bukan malahan mengakui negara lain disbanding negaranya sendiri. Dimanapun kita belajar tetap kita harus mengingat dari masa kita berasal dan siapa nenek moyang kita agar kita tidak keblinger dengan kemegahan negara lain. Salam satu jiwa kepedulian umat! Merdeka!