Jumat, 24 Mei 2013

BUDAK


BUDAK


Sudah Berapa Lama Aku Terkungkung Dalam Gerak Jiwa Yang Terikat
Jiwa Yang Tak Bisa Lepas Dri Tali Kemusrikan Yang Mengekang
Memang Serasa Tak Teraba Oleh Akal Yang Sudah Menemukan Tempat Penguburannya
Padahal Keterkekangan Yang Aku Rasakan Sudah Jelas Menjadi Tebing Penghalang Bagiku
Akan Tetapi Aku Seolah Tak Punya Daya Untuk Menghancur Leburkannya
Entahlah Berapa Buku Yang Harus Aku Baca Untuk Menemukan Solusi Pembebasan Jiwa Yang Sdah Diperbudak Oleh Hal2 Yang Seharusnya Aku Kendalikan Bukan Dikendalikan
Sedangkan Nasehat Demi Nasehat Yang Aku Temukan Dari Berbagai Buku Atau Dari Berbagai Mulut Mnusia Msih Belum Menemukan Ruangan Khusus Dalam Jiwaku
Seandainya Smua Ini Selalu Berjalan Berulang Diatas Lantasan Yang Sama,
Bagaimana Mungkin Coretan Waktu Yang Ingin Aku Ukir Ditengah-Tengah Kehidupan Manusia Bisa Terwujud Sedangkan Kedua Tanganku Tak Mampu Merangkul Permasalahan Batinku Sendiri Yang Menjelma Sebagai Tuhan-Tuhan Kecil Yang Selalu Aku “Sembah” Setiap Saat,
Jika Tidak, Aku Akan Menjadi Manusia Yang Memiliki Garis Keturunan Iblis Yang Selalu Mengajak Pada Jalur Kesesatan,


ANTARA HUKUMAN DAN PENGHARGAAN


                 ANTARA HUKUMAN DAN PENGHARGAAN
                                                                Oleh : Fahrul Imran
Perjalanan sejarah telah membuktikan bahwa kaum kapitalis semakin merajalela diberbagai negara-negara maju maupun negara berkembang. Mengatasi implikatif berbagai macam aliran modal ( Inflow) yang berkembang tidak dapat dipungkiri. Kehadiran penguat negara membentuk kesejahteraan individualisme diberbagai macam aspek produksi. Berbicara kesejahteraan ataupun keadilan tentu berbicara transformasi masyarakat. Harapan masyarakat mayoritas tentu ingin keadilan yang setara, sekalipun itu keadilan yang berbau komunis.
Masyarakat  sipil (civil society) adalah masyarakat mayoritas ingin merdeka, mereka tidak ingin hak-haknya dirampas oleh kaum penghukum negara. Kecenderungan kaum produksi lebih insentif berkontribusi (dorongan penyaluran) dengan adanya kekurangan pada produk lain. Kepandaian mereka lebih kepada penghukuman dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Tindakan-tindakan ini lebih progresif dibandingkan kelas borjuis atas, Satu kesempatan yang dilewati  maka taktik-taktik lebih cepat diatur kearah strategis. Tentu peluang kemenangan bagi kaum marhaen( kelas rendah) tidak dapat menikmati secara bertahap.
Kemungkinan yang muncul, hanya bervarian ditengah konseptual yang ada. Keresahan akan membungkuk ketika demokrasi-komunis berjuang dengan adanya penggabungan ideologi yang sama. Kesulitan negara Indonesia pada titik tekan demokrasi yang damai dan bebas, lantas tidak ada penjaminan sebuah negara akan makmur ketika demokrasi berkiprah diantara dua keterselubungan tersebut. Spekulatif (dugaan) boleh saja menganalisa antara dua jalan ini, karena penumpang gelap lebih cerdik dan licik. Tidak perlu harus melihat tontonan mereka, berlaku sebagai produsen cukup buas dalam menaklukan dunia maju (kontemporer). Tentu sebagai konsumtif akan jatuh dalam kebiasaan adat hingga mencapai sebuah target penggunaan yang lebih tinggi memaksa mereka untuk terkuras (out flow).
Ada problematika yang tidak bisa dijangkau, Seperti apa yang dikatakan oleh Karl Marx; “Bahwa hampir pada semua masyarakat negara, yang memang belum sepenuhnya menjelma sebagai entitas kapitalis murninya, tapi pada satu titik tertentu pasti akan bersifat kapitalis murni bila kemajuan-kemajuan ekonomi tetap menjadi prioritas utama Negara dan tetap dipertahankan”.
Mengutip halaman tersebut, bahwa akan ada musuh yang lebih besar secara internal yang kemudian akan membantai dan melekat menjadi sporadis (jamuran) negara. Kadang hal itu yang menjadi kebanggaan negara berkembang.
Mampukah Indonesia bertahan diantara problematika tersebut. Hampir semua produk berkualitas kaum penghukum menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia. Kehilangan jati diri bangsa Indonesia memang sudah kodrat yang harus diterima, mau berbuat apalagi ketika sudah dikungkung oleh modernitas-modernitas yang tidak mengenal kolektif. Indikasi yang muncul lebih pada individualisme, sehingga tertanam pada diri masyarakat bahwa apa yang mereka sumbang telah menjadi kebanggaan tersendiri. Kemerosotan kekuatan-kekuatan super power (kuat) telah membuat iklim badai yang spontan merubah keadaan budaya di Indonesia.
Tentu hal-hal tersebut yang menjadi masalah berat bagi bangsa, semua dibutakan dalam bentuk materil. Lantas apa yang harus dikembangkan ketika semua sektor sudah diekploitasi? Indonesia bagaikan budak negara lain yang harus menjadi umpan serigala bertaring seribu. Jika direalistiskan maka banyak terjadi kontras yang tidak seimbang, permainan yang dilakukan oleh kaum penghukum tidak menoleh kekanan dan kekiri sedikitpun. Negara ini bagaikan tempat terjadinya metabolisme suatu negara lain,  tidak berdasarkan pada mutualisme interaksi sosial. Pemerintah begitu santun dengan keadaan yang menyelimuti bangsa sendiri, sikap dan kebijakan hanya dengan mengukur dari barometer pemujaan. Memang bangsa ini harus maju, akan tetapi kemajuan tidak harus diukur dengan pemikiran dangkal. Cukup dengan membuat tesis-tesis pemikiran untuk dianalisa dan dibulatkan dalam bentuk strategis kedepan. Jangkauan pemerintah sebenarnya harus memahami psikologis bangsa seperti; Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI.
Ruang gerak bagi bangsa Indonesia sangat memadai apabila Sumber Daya Manusia(SDM) mampu memegang Sumber Daya Alam (SDA)nya. Kekalahan bukan di negara ini, melainkan negara asing yang akan menyembah-nyembah. Memang yang dibutuhkan adalah konsistensi atas harapan demokrasi walaupun masa transisi belum berakhir. Jalan demokrasi sudah memberikan lajur kiri untuk berjalan lurus, tinggal diimplementasikan, dan jika sewaktu-waktu terjadi tabrakan maka bukan suatu sistem yang salah tetapi ada kesalahan teknis yang berlawanan ingin menyebrang tanpa aturan. Inilah yang disebut kaum penghukum. Tanda-tanda semacam itu yang lebih praktis, karena bisa saja kaum tersebut menyodor upah kepada pengatur lalu lintas. Dari pemaparan diatas bentuk analogi sederhana dari penulis, kemungkinan saja bisa terjadi seperti itu. Oleh karena itu, wanti-wanti terhadap peran kaum penguasa. Konspirasi boleh saja terjadi dengan waktu amat singkat. Kelas penghukum akan membuat calon baru diseluruh penjuru Indonesia dan kalau sudah seperti itu tinggal menunggu keruntuhan melalui pengahargaan-penghargaan. [Fahrul Imran/ Faperta; agroteknologi, HMI unisma].

Minggu, 05 Mei 2013

Dosa Setengah Tiang

Dosa  Setengah  Tiang
Akulah  pandawa  lintasan  dunia…
Terbentang  roh  jasad  terbuang  murka…
Bercerita  dongeng  ditimur  tengah…
Lelapan  hari  semakin  menzona…
Tiupan  angin  hembuskan  debu  kematian…
Suara  gagak  menghampiri  ujung  badan…
Janji  malaka  hanya  berupa  urat  setan…
Ketaklukan  terhindar  dari  ikatan  amalan…
Seruan  surat  sudah  terbaca  oleh  samudra…
Tangisan  pribumi  hadir  diselat  sunda…
Lompatan  akal  terbawa  aliran  dosa…
Lensa  takabur  hilang  diterpa  bencana…
Kerasan  batu  sukar  dipecah  air…
Sebagian  sudah  dimakan  sang  petir…
Semoga  kerap  berlalu  dengan  sihir…
Ujar  memandang,  bala  akan  tersingkir…
          
Karya: ‘Si  Rumput  Emas’  ( Kampoeng Rusa—SUMBAWA  BESAR ).

Dua Jam Bersama Letjen Purn Prabowo Subianto

Dua Jam Bersama Letjen Purn Prabowo Subianto
Oleh: August Sasmitha

Satu pagi yang cerah, mengingat pagi itu saya akan menghadiri sebuah seminar motivasi nasioanl dari salah seorang calon pemimpin Indonesia masa depan, Letjen Purn Prabowo Subianto. Cukup berkesan bisa mendengar langsung pemaparan dari pemikiran-pemikiran cerdas beliau tentang bagaimana mengatur sebuah strategi agar Indonesia terbebas dari daya saing bebas di era globalisasi dengan tema seminar “Membangun Ekonomi Kerakyatan untuk Kemandirian dan Kedaulatan Pangan.” Setelah mengikuti beberapa acara pembuka, tepatnya pukul 11.25 Pak Prabowo muncul diiringi beberapa wartawan dan didampingi oleh Ketua ICMI Peduli Ibu Asma Ratu Ageng, karena memang pada hari itu diadakan pelantikan pengurus Masika ICMI Orda Malang dan pak Prabowo hadir sebagai Ketua Dewan Penasehat ICMI Peduli Nasional. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat membanggakan, karena beliaupun menyumbang dana bantuan sebesar 1 Milyar untuk ICMI.
Dengan suara yang lantang dan gaya bicara yang cukup santai, siang itu pak Prabowo menyampaikan gagasan-gagasan beliau bagaimana agar Indonesia kedepannya tidak lagi bergantung kepada negara-negara barat dan kesejahteraan masyarakat merata. Beliau mengatakan bahwa system demokrasi yang telah disepakati 15 tahun lalu sebagai system yang paling baik untuk Indonesia ternyata tidak membuahkan hasil yang baik bagi negeri ini, kesenjangan sosial menajam, masyarakat frustasi dengan ekonomi yang semakin tidak terjangkau, populasi masyarakat Indonesia meningkat, system pemerintahan yang korup, dan persediaan sumber daya energi yang tidak mencukupi untuk beberapa tahun kedepan. Tentunya semua permasalahan-permasalahan tersebut membutuhkan solusi yang konkrit agar Indonesia tidak lagi berlama-lama terpuruk dalam ketertindasan ekonomi, dengan itu beliau memberikan penawaran dengan mengusung Ekonomi Kerakyatan sebagai solusi yang tepat agar Indonesia bangkit menjadi negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih dan tentunya bisa lebih baik bersaing di dunia internasional. Beliau menjelaskan bahwasannya Ekonomi Kerakyatan meruapakan sebuah system ekonomi yang lebih memfokuskan pendekatan kepada ekonomi mikro dan memanfaatkan kekayaan alam untuk menstabilkan perekonomian Indonesia untuk seluruh lapisan masyarakat. Sistem ini tidak begitu serta merta beliau ajukan, namun hal itu berdasarkan amanah founding father kita 67 tahun silam yang telah tertuang dalam UUD’45 Ayat 33 Pasal 2 dan 3. Dan itu menjadi alasan yang sangat kuat bagi beliau untuk memastikan bahwa ekonomi kerakyatan adalah solusi yang tepat bagi bangsa Indonesia saat ini.
Saat ini Indonesia adalah negara dengan ekonomi terbesar ke-16 di dunia, dan diramalkan pada tahun 2030 Indonesia akan menempati posisi terbesar ke-7 di dunia. Sebuah peringkat yang sangat membanggakan, namun semua itu nyatanya tidak seindah yang kita pandang. Karena peningkatan ekonomi hanya berkutat pada ekonomi makro tidak pada ekonomi mikro, perkembangan pada wilayah makro sangat cepat namun pada wilayah sangat lambat sehingga yang terjadi adalah kesengjangan yang sangat besar. Hal inipun dikarenakan dengan peredaran uang yang tidak merata di masyarakat, dari hasil survey yang dilakukab 60% uang beredar di Ibukota Jakarta, 30% di kota-kota besar lainnya, dan 10% di desa, padahal 60% penduduk Indonesia hidup di pedesaan. Begitupun dengan populasi penduduk yang semakin meningkat tajam dengan rasio 1.6 %, bayangkan saja dengan jumlah penduduk 241 juta berarti setiap tahunnya Indonesia memiliki 3.8 juta penduduk baru dan tentunya semua itu akan membutuhkan biaya hidup yang semakin meningkat. Juga dengan ketersediaan Sumber Daya Energi yang semakin menipis, seperti minyak, gas, dan batu bara. Indonesia membutuhkan inovasi dan penemuan baru untuk peningkatan bekal SDE dimasa yang akan datang, dan semua itu akan terwujud jika Indonesia menggunakan system Ekonomi Kerakyatan. Dan permasalahan yang paling urgent adalah system pemerintahan yang tidak efisien dan korup. Korupsi di Indonesia sudah menyebar merata dikalangan pejabat, juga ketidakseimbangan antara jumlah daerah otonom dan populasi masyarakat Indonesia. Puluhan bahkan ratusan pejabat di Indonesia, baik pejabat daerah hingga pusat adalah bekas narapidana yang sersandung kasus korupsi, dan puluhan lainnya sedang dalam proses penyelidikan. Itu semua merupakan tantangan generasi kedepan untuk lebih mensinergiskan antara nasionalisme terhadap negara dan system perekonomian yang mengedepankan wilayah mikro.
Dari semua yang telah beliau paparkan akhirnya saya dapat menyimpulkan bahwasannya Indonesia saat ini sedang dalam masa-masa pubertas menuju kedewasan dalam bernegara dan mewujudkan negara yang merdeka dari segala belenggu system negara-negara barat. Semua system yang sudah diterapkan di Indonesia memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing, tapi satu yang paling penting adalah bagaimana agar rasa nasionalisme khususnya untuk kaum muda lebih besar untuk mengakui ke-Indonesia-annya bukan malahan mengakui negara lain disbanding negaranya sendiri. Dimanapun kita belajar tetap kita harus mengingat dari masa kita berasal dan siapa nenek moyang kita agar kita tidak keblinger dengan kemegahan negara lain. Salam satu jiwa kepedulian umat! Merdeka!

Senin, 18 Maret 2013

Diskusi antara Rasional dan Konservatif


Diskusi antara Rasional dan Konservatif 
Bagi kaum muda yang menyandang status mahasiswa, diskusi merupakan hal yang sudah biasa dilakukan atau dengan kata lain diskusi adalah kegiatan rutin yang sudah terjadwal. Kurang syah rasanya bagi penyandang mahasiswa tanpa melakukan diskusi, layaknya “gelas setengah berisi” atau “gelas setengah kosong”  karena membaca buku saja tidak cukup. Kebenaran isi buku yang dibaca belum sepenuhnya benar. Oleh karena itu, dengan bertukar pikiran kita akan memperoleh kebenaran yang objektif. Sebagaimana menurut Ibnu Muflin Al- makdisi “cara terbaik dalam mencari kebenaran adalah dikusi”.
Diskusi merupakan kegiatan bagi mereka yang memiliki sikap skeptis terhadap informasi-informasi yang mereka dapat dari buku maupun fenomena yang terjadi disekitar mereka. Karena keragu-raguan yang mereka miliki melahirkan kegelisahan yang perlu dihilangkan. Sehingga sebagai langkah mereka adalah mengadakan diskusi. Walaupun terkadang hasil yang mereka peroleh dari diskusi tidak menemukan ujung. Ini disebabkan sikap konservativ dari sebagian peserta diskusi mungkin karena malu atas sangahan-sanggahan atau kritikan- kritikan yang dilontarkan oleh beberapa peserta diskusi yang kemudian akan melahirkan selalu mempertahankan pendapat diri sendiri ketimbang pendapat- pendapat yang lebih rasional. Oleh karena itu, saya sangat setuju dengan pernyataan bahwa “mengkritik lebih mudah dan menerima kritikan adalah lebih sulit”
Sikap tak mau kalah dalam forum diskusi memang wajar bagi kaum intelektual muda, karena mereka masih dalam proses pencarian jati diri. Namun, sikap seperti ini harus segera dihilangkan demi terwujudnya diskusi dalam artian mencari kebenaran. Apabila kita mengedepankan ego maka diskusi tak akan pernah menemukan titik terang dan terbentuklah diantara mereka berkubu-kubu. Tentunya persoalan-persoalan tak akan pernah terselesaikan, Bahkan akan memperpanjang persoalan-persoalan yang sudah ada atau ia akan menjadi masalah baru yang akan mengaburkan persatuan dan kesatuan antar mahasiswa.
Memang perbedaan pendapat dalam forum diskusi sangat perlu demi terhindarnya diskusi yang monoton dan yang kurang bergairah. Sehingga dengan adanya perbedaan pendapat bisa melahirkan dialektika satu sama lain dalam forum diskusi tersebut. Namun, setidaknya kita memiliki sikap rasional dalam menyikapi setiap pendapat. Tak ada keberpihakan dalam berwacana dan harus benar-benar memperhitungkan segenap hal yang relevan sebelum menetapkan suatu keyakinan. Apabila kita memang benar- benar orang yang rasional, maka tidak akan pernah mengatakan “pendapat kalian salah” dan lebih suka mengatakan “ menurut kaca mata saya pendapat kalian kurang benar”. Jika kepastian tak mungkin dicapai, seorang yang rasional akan memilih pendapat yang mendekati kebenaran, sambil tidak membuang pendapat- pendapat lainnya yang juga berkemungkinan untuk benar sebagai hipotesis yang siapa tahu belakangan bisa didukung oleh bukti- bukti yang ril.
 Jadi seorang yang rasional tidak mengedepankan ego atau berpendapat secara konservative dalam berdiskusi, akan tetapi mengedapankan rasio, dimana pendapatnya bisa diterima secara objektiv dan tidak mengabaikan pendapat-pendapat orang lain.

Senin, 11 Maret 2013

NEOLIBERALISME BUKAN UNTUK INDONESIA

NEOLIBERALISME BUKAN UNTUK INDONESIA

Oleh: Fahrul Imran ( Ruell D’bicjak ) 06 Januari 2013

        Dalam era dewasa ini,Indonesia semakin terpuruk dalam keadaan ekonomi.Banyak sistem ekonomi yang yang memunculkan ketimpangan-ketempingan,karena membiarkan minoritas kaum elite merampas hak masa depan mayoritas rakyat,yang kemudian bangsa Indonesia mulai mundur sistem demokrasinya.Sungguh ironisnya kalau melihat bangsa Indonesia ini,hanya karena segelintir orang yang berkuasa,lalu membeli segala-galanya dengan kekayaan yang dimilikinya.pantaskah kita dihadirkan dengan sistem demokrasi?iya tentu tidak.sebab apabila sistem ekonomi dijadikan politik liberal secara tidak berkeadilan maka sistem demokrasi di Indonesia telah gugur.
       Pada sisi lainya,penerapan neoliberalisme bukan untuk Indonesia,sekarang neoliberalisme mencoba berjalan sealel dengan sistem demokrasi di Indonesia,tetapi malah mengahasilkan ketimpangan ekonomi yang sangat luar biasa.Bahkan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Joyo Winoto pernah membeberkan bahwa hanya 0,2 persen penduduk Indonesia yang saat ini menguasai 56 persen asset nasional.Kenapa demikian?banyak hal yang harus kita ketahui tentang sistem demokrasi di Indonesia.Kalau memang demokrasi asli yang benar-benar menciptakan keadailan dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia,tentu keberadaannya sangat diagungkan oleh rakyat.Akan tetapi,demokrasi Indonesia sekarang adalah demokrasi liberal,yang sementara ini kita anut bukanlah sebuah demokrasi yang sebenarnya. Melainkan, seperti dikatakan oleh Naomi Klein, hanya sebuah permainan untuk menipu kita bahwa seolah-olah perampokan elite terhadap rakyat itu sah-sah saja dan masih sesuai dengan aturan main.
      Secara umum bahwa penerapan neoliberalisme terhadap Negara-Negara dunia ketiga,termasuk Indonesia adalah melalui cara-cara licik yang merugikan,seperti jebakan utang yang menumpuk agar tercekik leher Negara penerima pinjaman.Sehingga Negara pinjaman ini bertekuk lutut,sementara Negara kreditur makin leluasa untuk melakukan kebijakan yang dikehendakinya.
Bila kita telisik secara historis,pada tahun 1997;ketika Indonesia terperosok dalam krisis ekonomi,IMF datang untuk menawarkan pinjaman.Akhirnya dalam waktu singkat Indonesia pun tertipu dalam jebakan IMF.Sejak itu,Indonesia pun dipaksa untuk mencoba menaburkan benih-benih neoliberal yang dikehendaki IMF.Dan perlu tahu bahwa kebijakan IMF itu sangatlah fatal,karena membawa malapetaka bagi rakyat Indonesia.
          Keberadaan neoliberalisme ditandai dengan adanya supremasi pasar dan supremasi elite.Dalam kondisi seperti ini,negara hanya dijadikan sebagai alat fungsi untuk menjalankan proses akumulasi keuntungan bagi segelintir elite.Sementara suara rakyat yang diminta setiap lima tahun sekali,tidak lebih sebagai “legitimator” agar bisa berjalannya suatu admistrasi neoliberal.contohya saja; pada saat pemilu regular setiap lima tahun sekali,pasti yang muncul adalah kaum-kaum neoliberalis yang berusaha mempengaruhi dengan doktrinisasi berbasis pada politik transaksional.Kemudian rakyat tergiur akan kebodohannya,yang seharusnya bisa hidup sejahtera menjadi malapetaka bagi mereka.
KEKUATAN KAPITAL GLOBAL
        Ketergantungan rezim nasional terhadap para kaum kapital finansial,membawa resiko besar bagi Negara Indonesia.Akibatnya, para bankir, spekulan, investor, dan lembaga keuangan semakin punya kekusaan yang tak terbatas. Lembaga keuangan dan perdagangan internasional, seperti IMF, Bank Dunia, dan WTO, telah mengambil peran dominan dalam menentukan arah kebijakan ekonomi dan politik di Indonesia. Bahkan, kekuasaan mereka bisa melampaui kekuasaan DPR. Faktanya: hampir semua proses penyusunan UU di DPR tidak terlepas dari arahan lembaga-lembaga tersebut. Politisi PDIP ( Eva Sundari ),pernah mengungkapkan keberadaan 76 UU yang draftnya disusun oleh pihak asing. Artinya, proses penyusunan kebijakan di Indonesia, termasuk UU, tidak lagi mengacu pada konstitusi (UUD 1945) dan kehendak rakyat.
      Dengan demikian, ada korelasi antara meningkatnya ketimpangan ekonomi dan semakin tersingkirnya rakyat dalam proses menentukan arah kebijakan pembangunan Negara Indonesia.Dan dibawah sistem neoliberalisme,partisipasi rakyat dalam politik makin terdegradasi.Oleh karena itu,diperlukan kesadaran bagi masyarakat dalam menelisik kebijakan pemerintah yang semakin lama semakin terjadi kebobrokan.Sebagai warga Negara Indonesia yang baik,kepekaan masyarakat sangat dibutuhkan terkait masalah-masalah sosial yang merugikan bangsa Indonesia.Untuk itu,sekecil apapun masalah sosial yang terjadi jangan pernah kita abaikan,karena memang tidak terasa kaum neoliberalis beraksi dalam mengambil keuntungan sebesar-besarnya terhadap masyarakat mayoritas di Indonesia.Sesungguhnya demokrasi telah mencerminkan ideologi bangsa Indonesia,yang patut kita hargai keberadaannya.


Minggu, 10 Maret 2013

INDONESIA DI PERSIMPANGAN JALAN

INDONESIA DI PERSIMPANGAN JALAN

    Sungguh ironis melihat keadaan negara Indonesia saat ini. Cita-cita luhur yang dahulu di proklamirkan melalui pancasila dan undang-undang dasar 1945 kini seakan-akan mulai kabur, samar, abstrak bahkan tidak tampak lagi, belum sempat melaksanakan perdamaian dunia indonesia bahkan tidak mampu menghilangkan konflik “SARA” yang ada di dalam tubuhnya. Belum sempat memberikan senyuman pada penghuniya kini malah menjual diri dan menggadaikan dirinya pada bangsa lain.
    Inilah hari-hari di mana makhluk kekal yang bernama rakyat tidak dipandang sebagai Ibu dari siapapun, melainkan lebih diperlakukan seperti anak-anak kecil bahkan kebanyakan di antara mereka diperhatikan hanya sebagai anak tiri yang hampir selalu dianggap potensial untuk bodoh dan bersalah. Inilah hari-hari di mana makhluk yang bernama politik tidak lagi mengenali dirinya sebagai anak dari kedaulatan rakyat. Dimana para pelakunya melakukan perjalanan sejarah yang berpangkal tidak dikepentingan rakyat dan berujung juga tidak dikesejahteraan rakyat, kondisi itu tanpa disadari oleh subyek-subyeknya.Para pelaku dzalim merasa tidak enak terhadap perasaannya sendiri, sehingga mereka berusaha menutup-nutupi bungkus kemuliaan dan label keluruhan – sampai pada akhirnya mereka kehilangan obyektivitas dan benar-benar percaya bahwa yang mereka lakukan memang bukan kedzaliman. Para pekerja kediktatoran bisa meminta bantuan kepada para pekerja ilmu untuk meyakinkan diri mereka bahwa itu bukan kediktatoran. Para penerap monopoli, oligopoly, subyektivisme kekuasaan dan hedonisme keduniaan, bisa dengan gampang membeli ‘parfum-parfum’ untuk mengubah kebusukan menjadi seakan-akan berbau harum, sampai akhirnya mereka yakin bahwa yang terpancar dari diri mereka adalah aroma-aroma harum.
Meraka mengatas namakan demokrasi sebagai tameng dan kedok untuk menghianati rakyat dan negaranya padahal Dalam tulisannya cak nun berkata: Demokrasi itu bak “perawan”, yang merdeka dan memerdekakan.
    Watak utama demokrasi adalah “mempersilahkan”. Tidak punya konsep menolak, menyingkirkan atau membuang. Semua makhluk penghuni kehidupan berhak hidup bersama si Perawan, bahkan berhak memperkosanya: yang melarang memperkosa bukan si Perawan itu sendiri, melainkan “sahabat”nya yang bernama Moral dan Hukum.
Demokrasi itu perawan suci yang yatim dan piatu. Tak punya Bapak Ibu, nasabnya belum pernah diperjelas. Ia memerdekakan manusia sepenuh-penuhnya. Semua dan setiap manusia sangat membutuhkan kesucian demokrasi. Sebagian untuk tempat berlindung dan sebagian lain untuk melakukan eksploitasi dan subversi pengkhianatan nilai.
    Hendaklah setiap manusia menikahi demokrasi, memperistri atau mempersuami si Perawan, tetapi ajaklah ia tinggal di rumah Hukum, yang berfundamen Ilmu, di lingkungan pertetanggaan Moral, dengan sirkulasi udara Budaya, dengan menjaga pertatapan wajah dan sorot mata nurani, serta pemeliharaan rahasia iman dan perhubungan sunyi Tuhan. Sehingga perlulah kesadaran diri dari rakyat dan pemerintah agar menjadikan demorasi sebagai tunggangan menuju cita-cita bangsa bukan nya malah menjadikan nya sebagai alat untuk menghianati nilai dan cita-cita bangsa, agar tatanan nilai dari demokrasi itu tidak menjadi janda sehingga bangsa ini mampu untuk lepas dari ketidak pastian antara hidup dan mati.
    Demokrasi adalah cerminan dari pancasila di mana di dalam demokrasi tersebut harus mengandung hakikat dan makna dari pancasila. Sudah saat nya mengembalikan jati diri bangsa ini dari kepura-puraan yang menutupi wajah-wajah bumi pertiwi sehingga terbentuk tatanan masyarakat ytang adil, merata, dan sejahtera yang berlandaskan pada pancasila karena pada hakikatnya demokrasi itu “dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat”
     Ketika demokrasi di jadikan sebagai alat untuk memeras rakyat dan mengeksploitasi negara maka tinggal tunggulah kehancuran dan kebinasaan indonesia, tak ada lagi yang nama nya kepercayaan antara pemimpin dan yang di pimpin tak ada lagi toleransi antar sesama dan yang lebih menakutkan indonesia kembali pada zaman purba di mana aturan tidak berlaku didalamnya.
     Sejak kemerdekaan Republik indonesia pada tahun 1945 indonesia telah berpedoman teguh pada IDEOLOGI PANCASILA. Dimana pancasila di anggap sebagai curahan isi hati dan cita-cita rakyat indonesia. Cita-cita mulia terkandung didalam nya, sehingga  dapat di ibaratkan Pancasila itu hanyalah sebuah surat cinta bagi sepasang kekasih yang bernama manusia Indonesia dan negeri yang bernama Indonesia. Karena seperti surat cinta, maka surat tersebut  tidak begitu penting dibandingkan ikatan lahir batin antara dua kekasih tersebut. Yang mana surat cinta tersebut hanya menjadi simbol cinta, sehingga yg perlu di perhatikan adalah bagaimana sang kekasih mencintai kekasihnya lahir batin yang mana cinta tersebut kemudian di wujudkan dalam “out of come” yang tampak jelas dan nyata. Sialnya saat ini kita sibuk menyembah surat cinta tersebut dan meributkannya dalam berbagai konflik dalam bingkai “agama-sekularisme”, namun lupa mengurus ikatan tersebut agar menghasilkan ikatan harmonis, dan berdampak bagi kesejahteraan lahir dan batin.
    Melihat indonesia saat ini jelas bahwa indonesia adalah bangsa yang besar. Tanda kebesarannya antara lain adalah lapang jiwanya, sangat suka mengalah, tidak lapar kemenangan dan keunggulan atas bangsa lain, serta tidak tega melihat masyarakat lain kalah tingkat kegembiraannya dibanding dirinya. Dari lingkaran katulistiwa, Indonesia memiliki 12,5%, dan itu lebih dari cukup untuk menguasai akses angkasa, satelit dan wilayah otoritas politik maupun perekonomian informasi dan komunikasi. Kita adalah a Big Boss industri teknologi informasi sedunia. Tapi kita sangat rendah hati dan mengalah. Kita tidak tega kepada “Negara Kecamatan” yang bernama Singapura, sehingga kekayaan itu kita shadaqahkan kepada tetangga kecil  seperti pada saat pemerintahan megawati di mana Indosat jatuh ke tangan singapura.
    Keluasan territorial dan kesuburan bumi maupun lautan, kekayaan perut bumi, tambang-tambang karun, keunggulan bakat manusia-manusia Indonesia, pelajar-pelajar kelas Olimpiade, kenekatan hidup tanpa managemen, ideologi bonek, jumlah penduduk, kegilaan genetic dan antropologisnya, dan berbagai macam kekayaan lain yang dimiliki oleh “penggalan sorga” yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia — sungguh merupakan potensialitas yang tak tertandingi oleh Negara dan Bangsa manapun di muka bumi.
Ketika kita mengaca pada fenomena diatas jelas sudah bahwasanya indonesia ini mempunyai potensi yang begitu besar bahkan ada salah satu budayawan mengatakan bahwa “seandainya surga itu bocor dan jatuh ke bumi maka indonesialah tempatnya, bayangkan dimana 3,5 abad lebih indonesia di jajah oleh belanda dan kekayaan indonesia di eksploitasi secara basar-besaran dan di angkut ke berbagai negara toh kekayaan negara kita tidak berkurang sedikitpun.
     Megacu pada keadaan di atas maka radikalisasi Pancasila perlu agar ideologi ini menjadi sakti mandraguna. Istilah “Radikalisasi Pancasila” pernah diucapkan almarhum Prof.Dr.Kuntowijoyo, karena beliau sangat resah akibat Pancasila hanya dijadikan lip service, bahkan menjadi alat politik untuk melanggengkan kekuasaan. Karenanya, jika Pancasila ingin tetap “sakti”, maka harus
     Beberapa tahapan radikalisasi diantaranya, jadikan Pancasila benar-benar sebagai : 1). Ideologi negara; 2). Salah satu sumber ilmu; 3). Laksanakan Pancasila secara konsisten, koheren, dan koresponden; 4). Jadikan Pancasila sebagai pelayan horizontal dan bukan vertikal; dan 5). Jadikan Pancasila sebagai kriteria kritik kebijakan negara.
    Disinilah peran semua elemen masyarakat mulai dari pemerintah, rakyat, buruh, tani dan mahasiswa di tuntut secara penuh untuk bekerjasama di dalam melaksanakan radikalisasi pancasila untuk bangsa indonesia yang jauh lebih baik. Perlu di ingat mahasiwa yang mempunyai peran sebagai Agen of change, agen of social-control dan sebagai kader bangsa sudah seharusnya tidak terjebak pada ranah romantisme, pragmatisme dan individualisme karena di sinilah mahasiswa harus terlibat secara aktif dalam mengawal demokrasi di negeri ini mengingat mahasiswa adalah generasi penerus bangsa dan masa depan bangsa sepenuhnya ada di tangan kita. Jadikan Bhineka Tunggal Ika sebagai pegangan dalam bermasyarakat agar kita tidak sibuk memperdebatkan perbedaan dan mempererat tali persaudaraan sebagai sesama kader bangsa. Sudah saat nya mementingkan kepentingan bangsa
    Apabila semua itu terjadi dan terealisasi maka jelas indonesia akan menjadi bangsa yang besar sehingga ungkapan “gemah ripah loh jinawi” bukan hanya menjadi mimpi dan khayalan melainkan mejadi indah laksana hujan yang menyirami gurun-gurun pasir dan tanah-tanah tandus di hati manusia indonesia, mengembalikan keutuhan jiwa indonesia yang telah terkikis oleh jurang-jurang keputus asaan dan duri-duri kebencian terhadap diri mereka dan masa lalu.

Malang 02, november 2012
Muhammad Subhan (cak Aan)